Sambatan, Tradisi Lokal Banyumas

Banyumas, SBB.WP.com – Sugeng enjang sedulur. Esuk-esuk enake ngapa ya? Sarapan mendoan karo ngopi kayong nylekamin. Tapi nek kaya kue thok koh kayane dadi ora pinter-pinter ya? Nek kaya kiye baen kepriben. Ngonoh pada sarap mendoan, ngopi karo udud ya ora papa lah. Tapi disambi maca artikel sing migunani kan bisa tambah nge-jreng-na utek. Sedurunge pada lunga ngode, apa arep ngengsreng kuwe bocahan enom, maca disit ben tambah cerdas lan wawasane luas. Kandah karo kanca batir apa pacar ya ora isin, bisa ngomong ngalor ngidul. Kan anu wis duwe bahan omongan. Dadi omongane ora ajeeeg bae. Lhawong dadi bocah koh mung kandah “ora duwe duit” karo “angel golet kerja”. Nek ibu-ibu kandahane ora adoh seka “bahan kebutuhane tambah larang”. Kayong ora ana topik liyane temen sih. Gaul ya… hehe.

Sedulur, esih kelingan karo sing aran “sambatan”? Kebangeten nek rika pada wis kelalen. Sambatan kuwe budaya gotong royong ala banyumasan. Nang nggone rika pada esih ana apa ora? Gandeng sing nulis kiye pengin banget ngingetna rika-rika pada aring budaya apik kiye, dadi mau esuk-esuk mruput golet nang internet. Nemu tulisan sing apik, karyane cah Tambak. Kiye monggo dipun waos nggih. Lha anu tulisan asline nunut tek salin.

Sambatan Gawe Umah: Studi Tentang Solidaritas Masyarakat Perdesaan di Banyumas

Ditulis Oleh A. Farros

Tulisan ini merupakan sebuah kajian tentang “principle of reciprocity” dalam masyarakat Jawa khususnya Banyumas yang berkaitan dengan tradisi turun temurun yang mencirikan masyarakat perdesaan yang kental dengan solidaritasnya yang tinggi. Banyak tradisi yang ada di daerah ini seperti: tradisi kondangan, rewang, sambatan, kerigan dan gerakan serta yang lainnya. Tradisi-tradisi ini bersifat melibatkan banyak orang, tidak berorientasi pada keuntungan, dan memiliki sanksi sosial yang bersifat laten namun efektif. Namun dalam perkembangannya, seiring dengan kemajuan (atau kemunduran? –red) masyarakat, tradisi ini makin luntur dan digantikan dengan sistem yang lebih bersifat untung rugi dan pertimbangan pembagian kerja (devision of labor). Tulisan ini akan lebih fokus pada kajian tentang tradisi sambatan di daerah Banyumas dengan menggunakan data lapangan dan studi literatur.

Tradisi adalah kebiasaan sosial yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya melalui proses sosialisasi. Tradisi menentukan nilai-nilai dan moral masyarakat, karena tradisi merupakan aturan-aturan tentang hal apa yang benar dan hal apa yang salah menurut masyarakat.Konsep tradisi ini meliputi pandangan dunia (world-view) yang mencakup kepercayaan tentang masalah kehidupan dan kematian serta peristiwa alam dan makhluknya, atau konsep tradisi itu berkaitan dengan sistem kepercayaan nilai-nilai dancara serta pola pikir masyarakat (Garna: 2003 : 186).

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa tradisi adalah pandangan dunia tentang kehidupan dan kematian. Kehidupan manusia mencakup apa saja yang menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat baik itu yang bersifat individual maupun komunal dan itu bersifat turun menurun. Termasuk dalam konteks ini adalah tradisi gotong royong berupa sambatan , khususnya yang berhubungan dengan tradisi mbangun umah di kalangan wong Banyumasan.

Dalam masyarakat dikenal adanya tolong menolong secara kolektif yang disebut dengan sambatan. Sambatan merupakan suatu sistem gotong royong di kampung dengan cara menggerakkan tenaga kerja secara massal yang berasal dari warga kampung itu sendiri untuk membantu keluarga yang sedang tertimpa musibah atau sedang mengerjakan sesuatu, seperti membangun rumah, menanam serta memanen padi dan menyelenggarakan pesta pernikahan.

Sambatan dilakukan oleh warga kampung dengan sukarela tanpa mengharapkan upah atas pekerjaaannya itu karena didasari oleh asas principle of reciprocity, yaitu siapa yang membantu tetangganya yang membutuhkan maka suatu saat pasti ia akan dibantu ketika sedang membutuhkan. Selain itu sambatan juga dilandasi oleh falsafah hidup ‘sapa nandur kabecikan, mesti bakal ngunduh’ (siapa menanam kebaikan pasti akan memetik hasilnya) (Ahmad Haidar, Harian Joglo Semar, 6-3-2008).

Sambatan berasal dari kata sambat, yang berarti minta tolong, minta bantuan kepada orang lain. Karena seseorang punya kepentingan atau keperluan yang tidak bisa dilakukan sendiri maka dia akan sambat/minta tolong pada orang lain agar membantunya. Maka terlaksanakanlah kegiatan sambatan, misalnya seseorang akan membangun rumah.

Sambatan adalah realisasi dari gotong royong yang melibatkan banyak orang yang dilaksanakan bersama-sama dan sukarela. Gotong royong untuk kepentingan bersama digerakkan oleh semangat solidaritas mekanik, yang menurut Durkheim, dilakukan karena adanya rasa kebersamaan dan senasib, bersifat tradisional yang pembagian kerja dalam masyarakat masih rendah, norma-norma yang cenderung represif dimana apabila ada yang melanggar maka akan dikenai sanksi sosial, dan masih adanya kesatuan dan integrasi sosial (social integrity) yang tinggi.

Semangat bergotong royong berupa sambatan, melibatkan warga beramai-ramai membantu warga lainnya yang sedang punya gawe. Mereka ikut memperbaiki, bahkan mendirikan rumah tanpa mengharap imbalan apa pun. Budaya sambatan – dengan muatan sikap simpati dan empati – itu merupakan bagian dari budaya adiluhur masyarakat Jawa, dan terasa manfaatnya bagi masyarakat yang kurang mampu.

Ini berbeda dengan solidaritas organik yang mencirikan masyarakat yang lebih maju (lebih kini-red), dengan sistem kerja yang terspesialisasi (division of labor), kerja didasarkan pada kontrak dan upah, dan tingkat integrasinya lebih rendah. Dalam hal ini, upaya kontrol individu menjadi lemah dan menuju ke suatu keadaan yang berkurangnya norma-norma (normless) yang lebih tinggi dalam masyarakat (Kinloch: 2005: 90). Sehingga kerja sosial seperti gotong royong bisa diganti dengan memberi imbalan uang atau menyewa tenaga orang lain.

Di Masyarakat perdesaan seperti di Banyumas tradisi sambatan adalah gambaran jelas tentang masyarakat “paguyuban”, yang merupakan karakteristik kuat yang masih terikat oleh nilai-nilai lokal dan semua orang yang ada harus terlibat. Di desa-desa, setiap ada orang yang akan membangun rumah maka dia akan mengundang para tetangga dan saudaranya untuk membantu. Para bapak dan anak laki-laki yang sudah dewasa akan membantu secara fisik sebagai wakil dari keluarganya. Sedangkan kaum ibu biasanya membantu urusan dapur untuk mempersiapkan ‘nyamikan’ berupa nasi tumpeng dan kebutuhan lainnya.

Gotong royong pada umumnya dilandasi oleh kesadaran dan kerelaan untuk mengorbankan sebagain tenaganya demi kepentingan umum. Gotong royong untuk kepentingan umum digerakkan oleh rasa solidaritas bahwa aktivitas yang dilakukan akan bermanfaat bersama. Ada yang menarik bahwa secara inklusif kegiatan ini dilakukan bukan tanpa pamrih. Gotong royong (sambatan: penulis) yang dilakukan antar keluarga didasarkan azas timbal balik. Siapa saja yang pernah menolong tentu akan menerima pertolongan balik dari pihak yang ditolongnya. Pemberian atas prestation (benda, jasa dan sebagainya) pada gilirannya akan menimbulkan kewajiban pula bagi pihak lain yang menerimanya, untuk membalasnya di kemudian hari (Priyono: 2008: 34), inilah yang dinamakan sebagai principle of reciprocity.

Walaupun kegiatan gotong royong (seperti kerigan, sambatan, kondangan, rewang, dll.) adalah bersifat sosial, tapi ia mengikat orang-orang yang ada di lingkungan setempat, dan pada perkembangannya kemudian mengarah pada tindakan yang bersifat saling membalas. Seseorang memberi apa dan dalam jumlah berapa, maka ketika punya gawe (hajat), dia akan mendapat sepadan dengan yang telah diberikannya.

Masyarakat Perdesaan Banyumas bukanlah orang-orang yang tertinggal dan selalu tradisional. Betapapun tinggi satus sosialnya (pendidikan, ekonomi, dll.), ketika seseorang masih mengidentifikasi diri sebagai bagian dari masyarakat desa, maka keterikatan dan solidaritas sosialnya lebih kuat dan harus menjunjung tinggi bila dibanding ketika dia berinteraksi dengan orang-orang di daerah perkotaan.

Bisa jadi karena seseorang memiliki banyak peran, misalnya dia menjadi pengusaha sekaligus warga, maka ketika harus mengikuti sambatan rumah tetangga dan dia banyak kegiatan, solusi akhir biasanya mewakilkan pada orang lain atau memberi sesuatu yang bentuknya bukan uang. Karena pemberian uang pada saat sambatan dianggap tidak etis. Atau ketika seseorang tidak bisa sama sekali mengikuti sambatan, biasanya dia akan minta pamit pada sang empunya hajat (sambatan).

Sambatan biasanya dilakukan pada awal pemasangan pondasi rumah jawa itupun hanya satu hari, karena untuk penyelesaiannya (finishing) biasanya dilakukan oleh tukang. Jauh hari sebelum acara sambatan dilaksanakan, yang punya gawe harus sudah mempersiapkan seluruh bahan bangunan yang akan dipasang. Bila para tetangga dan saudara saat sambatan tidak mendapat upah, tapi sekedar nyamikan dan tumpeng (nasi dalam bakul besar dan dikasih ampas kelapa yang gurih dan sekedar lauk pauk), maka para tukang akan mendapat upah. Untuk rumah permanen dari batu bata, sambatan dilakukan pada saat pemasangan kayu balok, usuk, reng dan genteng.

Dengan adanya sambatan warga miskin akan sangat terbantu dan ringan dalam hal biaya ketika membangun rumah, pelaksanakan pernikahan dan hajatan lainnya. Cukup banyak tentunya warga miskin yang harus menanggung utang banyak untuk mencukupi kebutuhan membangun atau meperbaiki rumah dan menyelenggarakan hajatan, bila tidak ada sambatan (hasil perbincangan penulis dengan warga Desa Purwodadi Kec.Tambak dalam acara poma-pami, sejenis kegiatan arisan, rutin tingkat RT).

Sambatan ini masih banyak dilakukan oleh orang-orang desa di Banyumas yang dilakukan secara turun temurun sampai sekarang. Kegiatan ini telah berhasil membentuk hubungan solidaritas sosial yang kuat dan mengikat bagi para anggotanya. Bahkan tradisi sambatan sudah menjadi pranata sosial yang tidak boleh dilanggar, karena bagi yang melanggarnya akan mendapat sanksi sosial. Leopold Von Wiese dan Becker mendefinisikan pranata sosial sebagai: Suatu jaringan proses-proses hubungan antar manusia dan antar kelompok manusia yang berfungsi untuk memelihara hubungan-hubunguan tersebut serta pola-polanya, sesuai dengan kepentingan-kepentingan manusia dan kelompok (Sony A. Nulhaqim tentang Pranata Sosial).

Sebagai perbandingan, dalam masyarakat perkotaan tradisi sambatan tidak ada lagi, seperti halnya di pusat-pusat kota di Banyumas. Bila ada orang kota punya gawe umah , maka semuanya akan dikerjakan oleh para tukang dengan sistem upah harian ataupun borongan. Mereka bekerja berdasarkan pada keahliannya dan satu sama lain saling tergantung.

Menurut Tonnies, masyarakat perkotaan (urban society) mencerminkan sikap gesellschaftlich, bersifat patembayan dan segala sesuatu diukur dengan uang. Yang ini berbeda dengan masyarakat perdesaan (rural society) yang gemeinschaftlich, masyarakat paguyuban yang lebih mengedepankan solidaritas mekanik. Dalam adat masyarakat Jawa yang mayoritas beragama Islam, tradisi sambatan, kondangan dan rewang menemukan titik temu dengan konsep ta’awun (saling tolong dan tergantung satu sama lain).[]

Sumber: http://mentaritambak.blogspot.com

******

Lha kuwe mau sedulur, kanca batir, tulisane maen mbok? Siki rika pada dadi ngerti nek sambatan kuwe termasuk budaya khas asli Banyumas. Budaya sing maen tur luhur. Berjiwa sangat Pancasilais. Dadi aja pada ditinggal, dewek selaku rakyat Banyumas nduweeni tanggung jawab nglestarikna Budaya sambatan kuwi mau. Sebab nek udu dewek ya sapa maning. Ya mbok?[]

Mas Nunu – Pimred www.ahmadtohari.com

2 thoughts on “Sambatan, Tradisi Lokal Banyumas

  1. matur nuwun bung, tulisane inyong dimuat nang web-e panjenengan. Jane tulisane tesih dawa, tapine tek ringkes. Lan tulisan kiye ditulis nalikane inyong tesih seneng kajian kajian sosial lan diuji nang wong-wong pinter nang perguruan sing duwur (eh perguruan tinggi). nang akhir tulisan jane ana skema sekang ilmuwan F.Tonnies sing njelasaken kriteria sing mbedakna masyarakat desa karo masyarakat kota. tapi yang ra papa wis kadung diungga. moga migunani lan manfangati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s